Hari Pahlawan: Perjuangan “Menegakkan” Diri Oleh: Eneng Elis Aisah

hatta

Pada tanggal 10 november ini, mari kita mengingat pahlawan tapi bukan dari sudut pandang perang. Namun dari sudut pandang seorang manusia biasa yang berjuang “menegakkan” dirinya. Moh. Hatta adalah seorang pejuang. Beliau sangat dikenal sebagai proklamator. Namun sebenarnya yang menjadikan seorang Muhammad Hatta pahlawan adalah perjuangannya melawan kesepian, kesendirian, kehampaan, keterasingan, kecintaan, dan ketidakmapanan tatanan yang ada dalam diri dan sekitarnya.
Begitu juga Syahrir, dengan segala kontroversinya dalam sejarah, beliau adalah jiwa kesepian yang berjuang dalam keterasingannya. Mereka berdua pejuang sejati yang mampu menegakkan dirinya dengan kebanggan, harga diri dan kehormatan sampai akhir hidup walau dalam keterasingan. Karena merekalah, jiwa-jiwa tergetarkan.
Sejarah mencatat, seorang pejuang yang sibuk dengan gaduh, gelimang harta dan jabatan adalah seorang pahlawan yang selalu berakhir tragis. Bukan karena mereka tidak pernah di kenang, namun hampa getaran menyentuh sukma. Sebenarnya mereka juga orang-orang terasing, namun mereka telah kalah dengan keterasingan dan memilih untuk sibuk dengan gelimang harta dan jabatan yang selalu membuat lupa. Itulah dua jalan hidup yang begitu samar namun tegas bedanya.
Bukan mereka saja yang menjadi pahlawan, kita, manusia biasa, yang tidak ada dalam catatan sejarah pun adalah pahlawan. Kita sehari-hari berjuang menempuh dua jalan itu dalam kesamaran. Berjuang menegaskan keabu-abuan walaupun sering kali terseok dan jatuh. Namun dengan sempoyongan kita berusaha bangun dan tegak kembali. Peluh dan air mata menghiasi perjalanan perjuangan kita setiap detiknya. Meski demikian senyum simpul terkadang terbentuk, tersipu akan laku yang telah kita perjuangkan.
Sebagai seorang pendidik, tidak dapat dipungkiri kita berjuang. Berjuang untuk kehidupan kita, juga berjuang untuk kehidupan peserta didik kita. Kita ingin kehidupan keluarga kita layak. Kita pun ingin kehidupan peserta didik kita lebih baik. Namun terkadang keduanya begitu menyamarkan perjuangan kita menjadi seorang pahlawan.
Terkadang kita begitu pamrih, permisif dan obsesif. Iming-iming gaji dan tunjangan membutakan keihklasan. Kesuksesan peserta didik dalam menempuh Ujian Nasional menyamarkan perjuangan dan menyuburkan obsesi akan pangkat dan keterkenalan. Kita sangat takut semua itu di rengut. Semua usaha kita lakukan untuk mempertahankannya. Namun sejarah kembali membuktikan bahwa semua perjuangan mempertahankan gelimang harta dan pangkat selalu berakhir tragis.
Menjaga getaran-getaran jiwa kepahlawanan adalah salah satu solusi agar kita berhasil dalam perjuangan menegakkan diri ini. Selalu me-update jiwa dan menyiramnya dengan berbagai curahan ilmu dan lakon sejarah para pendahulu. Membuka pikiran dan memperkuat mental dengan mempelajari bagaimana orang-orang hebat bertindak dan berjuang. Hanya dengan menjadikan “membaca” sebagai detak jantung yang mengiringi helaan nafas lah yang mampu mendetakkan kembali jiwa kepahlawanan.
Kita juga perlu mengakrabi keterasingan. Malahan bagi seorang pendidik, keterasingan dan rasa sepi itu patut dijadikan teman. Dalam keadaan demikian, nalar dan asa bersinergi mencari bentuk akan identitas diri. Terasing dan sepi adalah suasana kebatinan yang dapat membangkitkan refleksi.
Siapa kita? Apa yang telah kita perbuat? Untuk apa selama ini kita berbuat? Apa hasilnya? Bergunakah atau hanya kesia-siaan? Bagaimana agar tidak sia-sia? Bagaimana agar tidak gagal? Bagaimana agar kita sukses? Juga bagaiman agar orang lain sukses? Bagimana pendapat orang? Mengapa mereka begitu, saya begini? Dan segudang pertanyaan lain yang selalu melayang hampa ketika menjadi topik diskusi dengan rekan sejawat.
Karenya hanya dengan refleksi dalam keterasingan dan sepi itulah kita menemukan kesejatian bahwa hanya Yang Maha lah yang paling selalu setia menemani, tidak ada yang lain. Ketika refleksi telah mencapai kesadaran tersebut, pribadi ikhlas akan terbentuk, menggelinding membesar laksana bola salju. Tidak ada lagi khawatir, cemas dan waswas karena ada yang selalu setia menemani tanpa permisi. Sehingga dengan ditemani Sang Maha, strategi dan langkah hebat selalu tercipta.
Diatas itu semua, kita juga harus siap tergerak dan berani bergerak. Seorang pahlawan sejati tidak pernah membiarkan jiwanya tertutup rapat. Mereka mempersilahkan getaran-getaran kepahlawanan mengusik jiwa, raga, batin dan nalarnya. Bahkan mereka membiarkan hatinya risau atas ketidakteraturan dan ketimpangan. Kegundahan hati seorang pahlawan sejati bukan karena harta, namun karena keinginan untuk segera bertindak.
Bergerak adalah penawar kegelisahan seorang pahlawan sejati. Bangkit dari diam dengan menggerakan tangan dan kaki, dengan berbicara atau hanya sekedar berdiri. Memulai langkah kecil. Mencoba, mencoba dan tidak henti mencoba. Dengan bergerak kita memohon berkah. Dengan bergerak kita memahami bahwa seorang pahlawan tidak pernah berhenti bergerak. Bergerak berarti berjuang. Berjuang menegakkan diri, menegakkan prinsif, menegakkan kehormatan di tengah hasutan glamoritas dunia yang begitu menggoda. Selamat Hari Pahlawan!

One thought on “Hari Pahlawan: Perjuangan “Menegakkan” Diri Oleh: Eneng Elis Aisah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s