Kerukunan Nasional dalam Bingkai Agama

kerukunan_n

Pada tanggal 3 januari 2014 santer di sebut akan dijadikan hari kerukunan Nasional (HKN). Big event tersebut adalah atas inisiasi Kementerian Agama dalam menyembut Hari Amal Baktinya yang ke 68. Dalam wawancara dengan sebuah televisi swasta, Menteri Agama menegaskan pentingnya harmonis dalam keberagaman. Semboyan ini mutlak diperlukan karena Negara kita adalah Negara yang multi suku, ras, agama dan budaya yang bersatu dalam satu negara, Indonesia. Hidup dalam kebinekaan inilah menjadi sumber kekayaan sekaligus potensi konflik terbesar negara kita.

Permasalahannya sekarang adalah apakah cukup hanya dengan mencanangkan tanggal 3 Januari sebagai Hari Kerukunan Nasional? Apakah cukup dengan acara gerak jalan Kerukunan Nasional yang dilakukan pada tanggal 5 Januari ini? Apakah cukup menciptakan dan menjaga kerukunan dengan hanya membentuk Forum Kerukunan Umat Beragama yang biasanya hanya berfungsi di level pusat saja?

Saran Dirjen Bimas Hindu dan Katolik, IBG Yudha Triguna dan Semara Duran Antonius perlu ditindaklanjuti. IBG Yuda Triguna menyarankan bahwa untuk menciptakan dan mempertahankan kerukunan, kita perlu meningkatkan frekuensi interaksi. Sedangkan Semara Duran Antonius menyarankan Kerukunan Nasional terintegrasi dalam kurikulum pendidikan nasional.

Memang tidak dapat dipungkiri, hanya dengan interaksi sebuah pemahaman, pengertian, pengetahuan, keyakinan dan keharmonisan terbentuk dengan baik. Interaksi bisa dalam bentuk interaksi langsung antara orang perorang atau juga interaksi tidak langsung, yakni dengan proses pembelajaran. M. Fatulah Gulen seperti yang dikutip oleh Richard Penaskovic, seorang Profesor Studi Agama di Universitas Auburn, Alabama AS ketika menanggapi tentang teori Clash of Civilization-nya Huttington mengemukakan bahwa hanya dengan pengetahuan dan pendidikan yang baik, Clash of civilation dapat dihindari.

Pemahaman Gulen inilah yang nampak mendominasi dibukanya beberapa Studi Islam di beberapa Universitas di Australia, seperti Australian Catholic, Melbourne, La Trobe dan Monash. Dan Studi Islam ini mendapat respon baik dari mahasiswa. Prof. Greg Barton dari Monash menjelaskan bahwa kebanyakan mahasiswa yang mengambil Studi Islam ini ingin lebih memahami Islam secara mendalam. Mereka meyakini bahwa Islam secara intrinsik penting dan menarik. Oleh karena itu mereka menyadari bahwa untuk menghindari misinterpretasi tentang Islam, mereka harus mempelajarinya secara komprehensif.

Dalam konteks Negara Indonesia, peran Islam sebagai agama mayoritas sangat signifikan dalam membanguan interaksi interreligi yang rukun dan harmonis. Memberikan pemahaman akan pentingnya berdialog dengan rendah hati dan terbuka terhadap keyakinan orang lain kepada umat mutlak dilakukan oleh para penyuluh agama, guru, ustad dan tokoh masyarakat pelosok kampung.

Perasaaan tidak percaya diri, takut, arogan, mendominasi, melebih-lebihkan perbedaan juga mengabaikan eksistensi kepercayaan satu dengan yang lainya mesti dihilangkan. Saling mendengarkan pengalaman spiritual seyogyanya dibangun meskipun tidak selalu harus setuju terhadap apa yang didengarkan.

Menghindari debat yang antagonis dan meremehkan, membangun kerukunan berdasarkan nilai-nilai spiritual serta komitmen terhadap masalah-masalah kemasyarakatan mutlak diciptakan. Paus John Paulus II mengungkapkan bahwa kerukunan spiritual berimplikasi terhadap kemampuan melihat sisi positif orang lain, menerima perbedaan keyakinan mereka dan menghargainya sebagai sebagai anugrah Tuhan. Malahan Prof. Dr. Ismail Albayrak, pimpinan studi Islam di ACU mengungkapkan bahwa interkasi interreligi dapat meningkatkan keimanan seseorang terhadap agamanya dan memperkokoh rasa kebersamaan. Sehingga dominasi kebenaran akan agama satu diatas agama yang lain, yang selama ini menjadi sumber konflik, dapat dihindari.

Selanjutnya, tidak sedikit Kerukunan Nasional terancam oleh perbedaan penafsiran dan pemahaman dalam satu agama tertentu. Malahan gejala inilah yang nampak sangat mendominasi. Dan tidak dapat dipungkiri hal ini mengancam keharmonikasn kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Bahkan hal tersebut cenderung menjadi penyulut ketidakharmonisan agama satu dengan yang lainya.

Untuk meminimalisir hal tersebut, interaksi dan dialog intrareligi mesti dibentuk dengan baik. Penanganan yang refresif terhadap golongan yang berbeda pemahaman dan penafsiran hanya akan membuat jurang perbedaan dan kebencian yang semakin dalam. Begitupun dengan pembinaan yang dilakukan oleh golongan besar hanya akan memperlihatkan dominasi yang berlebih terhadap golongan kecil.

Maka tidak ada jalan lain, semuanya harus berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah, saling mendengarkan dengan seksama dan rasa hormat terhadap apa yang menjadi kepercayaan dan keyakinan masing-masing. Selain itu hak berbicara dengan percaya diri untuk mengungkapkan tafsiran dan keyakinannya tanpa rasa arogan dan merasa paling benar perlu ditumbuhkan. Kiranya pernyataan para Imam Mujatahid dalam kitab Usul al-Fiqih karya Abu Zahrah yang menyatakan bahwa “pendapat kami benar, mengandung kemungkinan salah dan pendapat selain kami salah, mengandung kemungkinan benar” patut dijadikan landasan dalam berinterkasi intrareligi yang rukun dan harmonis. Semoga kedepan Negara kita semakin kaya karena semua penduduknya memiliki kekayaan hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s