Membumikan Komunikasi Surgawi di ruang kelas

Membumikan Komunikasi Surgawi di Ruang Kelas

Oleh: Eneng Elis Aisah

Dalam hidup keseharian sebagai mahluk sosial, manusia tidak pernah luput dari proses komunikasi. Konsep komunikasi berdasarkan akar kata to communicate pada dasarnya mengandung makna memberikan atau bertukar informasi, menyatakan pendapat atau perasaan dan berusaha memahami baik itu pendapat, pikiran, perasaan, bahkan pengetahuan antara satu dengan yang lainya. Dari pengertian tadi dapat digarisbawahii bahwa hakikat utama komunikasi adalah aktivitas lisan antara individu untuk saling berbagi kebaikan yang berdasarkan pada pikiran dan perasaan. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat fushilat ayat 3:

ومن احسن قولا ممن دعا الي الله وعمل صالحا وقال انني من المسلمين

Yang artinya: Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shaleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?”

Dalam ayat tadi, secara implicit menegaskan bahwa komunikasi seseorang menentukan “harga” dari orang tersebut: apakah menjadi orang yang baik atau orang yang tidak baik. Jelaslah bahwa dalam berkomunikasi harga diri atau wajah (face) sangat dipertaruhkan. Wajah dalam proses interaksi, menjadi identitas yang sangat penting bagi pemiliknya. Ungkapan kehilang wajah menjadi hal yang sangat menakutkan menimpa kita manakala kita terlibat dalam interaski yang melibatkan terancamnya wajah (face threatening act). Saking takutnya kehilangan wajah, maka kita dengan sengaja selalu berusaha untuk menghindari aktifitas yang mengandung keterancamanya wajah kita seperti dikritik dan mengkritik, evaluasi, monitoring bahkan seperti mengungkapkan gagasan dan perasaan bahkan dalam interaski diruang kelas, kita selalu menghidnari berkata tidak tahu manakala siswa kita bertanya sesuatu yang benar-benar kita tidak tahu.

Konsep wajah pertama kali diteumakan dalam literature china pada abad 4 yang selanjutnya menjadi bagian dari ajaran kung fu che dan pada akhirnya menjadi konsep dasar aturan komunikasi yang dikembangkan oleh Goffman pada tahun 1970-an. Dalam konsep ini, wajah adalah entity sosial yang dipinjamkan masyarakat kepada yang punya wajah. Dengan kata lain, wajah adalah pinjaman yang diberikan oleh masyarakat yang suatu saat dapat diabil kembali manakala yang memakai wajah itu tidak mengikuti aturan masyarakat yang meminjamkan wajah tersebut. Namun, konsep wajah dari timur ini pada akhir tahun 1980 an mendapat kritik yang sangat hebat dari barat khusunya oleh Brown dan Levinson. Menurut mereka wajah adalah enitas pribadi yang dimiliki dan diciptakan oleh yang punya wajah. Dalam pengertian ini wajah menjadi sangat pribadi dan personal. Dengan kata lain, keselamatan wajah kita tergantung dari apa yang kita lakukan dan usahakan sendiri tanpa ada unsur keterlibatan orang lain dalam menjaga wajah. Hal ini pada akhirnya dapat mengakibatkan individualism dan keangkuhan diri yang padakhirnya membuka celah untuk menghalalkan apapun yang penting wajah sendiri terselamatkan bahkan sampai menghalalkan perusakan wajah orang lain.

Oleh karena itu, dalam prinsip komunikasi Leech menyarankan beberapa maksim kesantunan berkomunikasi yang terdiri dari prinsip kebijaksanaan, prinsip kedermawanan, prinsip penerimaan, prinsip kesepahaman, dan prinsip sympati. Kesemua prinsip temuan Leech tersebut berjalan dengan hukum tauntologi yang mengandung prinsip mamaksimalkan kepada lawan tutur dan meminimalkan kepada penutur. Dengan kata lain prinsip Leech ini menapikan keuntungan komunikasi bagi penutur dan memberikan keuntungan sebanyak-banyaknya bagi mitra tutur. Prinsip ini tentunya akan merugikan mitra tutur dan pada akhirnya menciptakan komunikasi satu arah. Maka pada tahun 2005, aziz seorang professor linguitik Indonesia menyarankan prinsip saling tenggang rasa (mutual consideration) yang berdasarkan pada rumusan:

“terhadap mitra tutur anda, gunakan tuturan yang anda sendiri pasti akan senang mendengarnya apabila tuturan tersebut diguanakan orang lain kepada anda” mafhum mukholapah dari pernyataan tadi adalah “Terhadap mitra tutur anda, jangan gunakan tuturan yang anda sendiri pasti tidak akan menyukainya apabila tuturan tersebut digunakan orang lain terhadap anda” dengan kata lain bahwa ketika kita melakukan komunikasi maka kita harus memiliki kesadaran bahwa mitra tutur kita pasti memiliki perasaan yang sama dengan yang kita rasakan. Lebih lanjut dari rumusan tersebut, Aziz memberikan empat prinsip dasar dalam berkomunikasi:

  • Prinsip daya sanjung dan daya duka (harm and favor potential)

Prinsip pertama ini menujukan dasar atau niat dari sebuah tuturan. Nilai dasar mengandung makna bahwa tuturan memiliki potensi untuk menyakiti atau menyanjung lawan tutur tergantung dari niat yang kita tanamkan dalam hati. Tentunya, hal ini sejalan dengan hadits nabi “Innamal a’malu binnitt wainama likullimriin ma nawat”.

  • Prinsip berbagi rasa (shared feeling principle)

Prinsip ini menegaskan bahwa sebuah tuturan yang diucapkan penutur harus senantiasa mampu menjaga perasaan mitra tutur. Sebagaimana hal nya ketika dia memperhatikan dirinya sendiri ketika bertutur. Dan hal ini tentunya sejalan dengan ajaran Islam yang menyatakan bahwa “ cintailah saudaramu sepertihalnya kau mencitai dirimu sendiri”

  • Prinsip kesan pertama (prima facie principles)

Komunikasi yang kita lakukan akan memberikan kesan terhadap mitra tutur dan pada akhirnya menentuka keberhasilan komunikasi pada tahap selanjutnya. Apabila mitra tutur mendapatkan kesan kurang baik terhadap penutur pada interaksi pertama kita, maka sangat mungkin terjadinya keengganan untuk melanjutkan komunikasi. Dan hal ini telah dicontokan oleh baginda kita selama beliau menyiarkan agama islam. Allah menggambarkan”

فبما رحمة من الله لنت لهم ولو كنت فظا غليظ القلب لانفضوا من حولك فاعف عنهم واستغفرلهم وشاورهم في الامر فاذا عزمت فتوكل علي الله ان الله يحب المتوكلين

Artinya: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.

  • Prinsip keberlangsungan (continuity principle).

Prinsip yang terakhir ini sangat berkaitan erat dengan prinsip-prinsip sebelumnya. Ketika penutur memberikan kesan baik kepada mitra tutur, maka proses komunikasi akan berlangsung terus menerus. Bahkan prinsip continuity ini juga memiliki range masa depan yang lebih dari sekedar kehidupan didunia tapi prinsip keberlanjutan ini sampai keakhirat kelak. Dengan kata lain bahwa komunikasi kita akan memberikan nilai dan pada akhirnya membentuk kepribadiaan, watak, pengetahuan dan pengaruh lain kepada mitra tutur. Karena pada prinsipnya tujuan komunikasi sama halnya dengan tujuan kehidupan. Allah berfirman:

وما الحيواة الدنيا الا لعب ولهو وللدار الاخرة خير للذين يتقون افلا تعقلون

ِِArtinya: Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (Al-An’am 32)

Implikasi padagogis dari prinsip komunikasi ini bahwa, komunikasi kita dikelas dengan anak memberikan efek yang sangat dalam bagi keberlangusngan hidup anak. Apakah anak akan menjadi pribadi yang baik, bersemngat hormat, rajin belajar dan memiliki daya kritis tergantung dari pola komunikasi kita dengan mereka. Bahasa yang digunakan guru dalam proses interkasi sosial-‘belajar’ (Emmitte & Pullock, 1991) sangat penting dalam membantu siswa dalam belajar dan mengembangkan kemapuan berfikir kritis mereka (Hills, 2006; Brown, 2007; Lampert, 1998; Cobb, McClain & Whitenack, 1997 seperti dalam Brown, 2007). Namun penelitian umumnya menunjukan bahwa pola komunikasi guru di dalam kelas cenderung memandulkan siswa dalam belajar dan berfikir (Bolitho, 2008).Oleh karena itu Guru dalam interaksi mereka dengan murid hendaknya memperhatikan bahasa yang mereka gunakan dikarenakan bahasa adalah sumber proses pembelajaran (Emmitte & Pullock, 1991).

Penelitian yang dilakukan oleh Cazden tahun 1982 mengindikasikan bahwa 70 % guru mendominasi pembicaraan dikelas. Beberapa penelitian lain mengungkapkan hal yang sama. Diantaranya Brown & Hirst (2007), Myhill (2006), Crosson & Resnick (2005), Ryder & Leach (2008) Hansen (2004), Walsh (2002) melaporkan bahwa bahasa yang dipergunakan guru sangat penting dalam memberikan rasa aman dan nyaman kepada siswa untuk berpartisipasi dalam proses belajar.

Dengan kata lain seandainya bahasa yang kita pakai dalam interasi tidak memiliki prinsip saling tenggang rasa, lebih mengandung banyak daya duka diakibatkan dari nafinya niat yang kuat dan ketidakmampuan kita memberikan kesan yang baik, maka keberlangsungan pribadi anak yang diakibatkan pola komunikasi kita akan membentuk pribadi-pribadi yang “membenci” surga dan lebih “mencintai” kehidupan. Sehingga pada akhirnya nilai-nilai ajaran Islam yang telah dikomunikasikan Allah melalui al-qur’an semata hanyalah dogmatis keakhiratan yang menafikan kehidupan kekinian.

Oleh karena itu, adalah tugas kita sebagai guru yang berada dilingkungan kekinian dan keakhiratan (Madrasah) untuk membumikan nilai-nilai ilahiah, yang telah Allah turunkan dalam bingkan pengetahuan modern sepertihalnya yang dilakukan professor Aziz. Dan adalah tugas kita sebagai umat islam untuk berkomunikasi layaknya komunikasi yang disaratkan Allah dalam Al-Qur’an kepada mitra tutur kita dan terutama kepada murid kita. Karena ditanganyalah kelak harga diri dan kejayaan Islam.

(Artikel ini ditulis setelah kuliah Pragmatik Prof. E. Aminudin Aziz, Guru Besar Linguistik UPI Bandung. Tulisan ini adalah sebagai ucapan terima kasih atas ilmu yang beliau berikan. Alhamduliah artikel ini juga dimuat di Media Pembinaan Kanwil Depag Jabar Edisi Januari 2010, No. 10/XXXVI)

2 thoughts on “Membumikan Komunikasi Surgawi di ruang kelas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s