Mendidik, Mencintai dengan Berdialog

Picture 003Mendidik, Mencintai dengan Berdialog

Oleh:

Eneng Elis Aisah*

Tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak mengetahui kata cinta. ‘cinta’ adalah kata yang sering kita dengar dan juga ungkapkan.

Kata ini sering menjadi legitimasi atas berbagai alasan yang sering kita lakukan. “bakating ku nyaah” secara sepontan muncul ketika kita memukul anak yang nakal, atau ketika berbeda pendapat atas suatu pandangan.

Anak adalah amanah Allah kepada kita. Sifat kekhalifaahan kita diuji dengan kehadiran mereka. Bukan diakhirat kelak, di dunia pun amanah ini dapat menggiring kita kepada dua pilihan, terpuji atau ternistai.

Anak bukanlah miniatur kita – orang dewasa. Mereka adalah pribadi yang sangat unik. Keunikan itulah yang menyebabkan mereka berbeda dalam intelegensi (Gardner dalam Pinter 2006).

Namun, ‘perbedaan’ mereka tidak mengakibatkan perbedaan dalam kebutuhan. Kebutuhan akan pangan, sandang, perlindungan serta aktualisasi diri mutlak terpenuhi, lazimnya manusia dewasa seperti kita.

Sifat alamiah anak, dimanapun adalah egocentris. Mereka selalu ingin menempatkan dirinya dalam pusat pusaran perhatian kita, tidak ada yang lain (Piaget dalam Mooney).

Mereka tidak ingin diberitahu apa yang harus mereka lakukan. Al-hal (tindak laku) lebih mereka sukai dari pada petuah. Terlebih lagi, ketika mereka dilibatkan dalam kontek sosial yang kita hadirkan (Vygotsky dalam Cammeron)

Mengenal potensi anak kita adalah tugas utama kita sebelum mendidik. Walaupun anak sendiri, tidak mesti mereka mirip seperti kita.

Bahkan tidak mesti memiliki cita-cita dan keinginan seperti kita. Apalagi dengan siswa yang tidak memiliki hubungan biologis. Tentu mengetahui variabel mereka dalam belajar mutlak diperlukan.

Pengalaman dan pengetahuan  kita terhadap anak menggiring kita pada penyadaran bahwa mendidik anak, baik anak sendiri ataupun anak orang lain, haruslah dengan cinta. Namun cinta yang seperti apa yang harus kita berikan.

Apakah cinta yang membuat mereka tergantung pada kita selamanya? Ataukah cinta yang memberi ruang kepada mereka untuk berfikir bagaiman mencinta?

Mencinta berarti menghadirkan dialog yang tak berpretensi. Menghadirkan penggiringan nalar dalam koridor respect.

Menghadirkan jawab yang mengandung tanya, sekaligus jawaban secara bersimultan. Menghadirkan berjuta senyum dalam gelak tawa.  Serta membingkai sendu dalam pusaran ilmu.

Dialog menempatkan anak sebagai entitas yang dihormati. Diakui ke wujudan-nya. Diasah kecemerlangan fikirnya.

Dialog adalah aktivitas yang disukai anak karena anak cenderung untuk bertanya sebagai media memenuhi rasa keingintahuannya (Pinter 2006).

Menghadirkan aktivitas dialog atau suasana yang didasari open ended questions relatif sulit terlebih ketika dulu kita dibesarkan dan dididik dalam suasana yang kurang demokratis.

Pengalaman masa lalu, walaupun berusaha untuk dihindari, selalu menghantui malahan bisa merefleksikan tindakan kita. Karena hanya  lingkungan itu yang kita ketahui dan hanya perlakuan seperti itu yang pernah kita rasakan.

Namun, apakah dialog antara diri, ego dan wawasan tidak menghasilkan penyadaran bahwa semua kekeliruan pengalaman yang telah kita rasakan dulu mesti dirasakan oleh siswa, anak yang kita sayangi?

Seandainya dosa turunan itu ada, maka adalah dosa terbesar kita dengan menurunkan apa yang telah menjadi kesalahan. Tidak etis, kiranya, pengalaman yang kita benci ketika anak-anak diberikan kepada orang yang kita sayangi sekarang.

Mendidik adalah mencintai. Dan mencintai berarti memberikan yang terbaik. Berdialog yang mendidik adalah memberikan waktu, pikiran, perasaan dan perhatian dengan penuh rasa cinta serta memberikan nilai-nilai perjuangan abadi.

Berdialog dengan cinta menghadirkan pendidikan dan pengalaman bagaimana mencinta bagi anak, kelak. Sehingga generasi masa depan kita menjadi generasi yang tidak menyukai kebencian. Karena mereka mempunyai banyak referensi, contoh dan pengalaman terbaik bagaimana mencintai.

* Penulis adalah Guru MTs. Negeri Ciranjang

(NB: Umi…teu aya deui kanyaah anu dipikahareup ti manusia, iwal ti umi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s