Guru, Sang Provokator Sejati

Guru, Sang Provokator Sejati*

Oleh:

Eneng Elis Aisah

(Guru MTs. Negeri Ciranjang, Cianjur, Jawa Barat)

Dalam khasanah pemberitaan sekarang ini kata “provokator” memiliki sense yang negatif. Kata ini sering digunakan untuk merujuk kepada seseorang yang menjadi dalang dari segala kerusuhan.

Namun ada ungkapan yang menarik dari Bastone yang dikutip oleh Harmer (2008:57) “What we are doing effectively is to provoke noticing for the learner”. Ungkapan diatas memberikan sense yang berbeda terhadap dua hal. Pertama terhadap kata provoke itu sendiri. Kedua terhadap makna pengajaran.

Proses pengajaran di kelas ternyata harus melihat pada kealamiahan belajar – The Nature of Learning (Weaver 1990:3). Pemikiran yang sempit terhadap makna belajar membatasi kita untuk memprovokasi potensi diri guna menjadi pembelajar mandiri –autonomous learner.

Manusia tidak ada yang tidak memiliki kemampuan. Al-Qur’an, menegaskan manusia sebagai hasil penciptaan yang paling sempurna (Q.S Attin: 4). Kesempurnaan ini adalah inner capacity yang mesti distimulasi dan diperkuat. Tugas guru lah menstimulasi, memprovokasi dan memfasilitasu agar potensi diri dapat dimaksimalkan. Undang-Undang Pendidikan kita memberikan acuan agar pendidikan memberikan kesempatan kepada pembelajar mengembangkan potensi dirinya.

Menurut Harmer salah satu cara untuk menjadi provokator sejati dalam dunia pembelajaran bahasa adalah memfasilitasi  thinking about language learning (2007:57). Hal ini berdasarkan pada asumsi bahwa belajar bahasa adalah belajar befikir (Alwasilah 2008:147).

Memfasiliasi pembelajar untuk befikir dapat menumbuhkan,  meningkatkan kesadaran serta membentuk strategi belajar mereka sendiri. Selain itudapat menumbuhkembangkan budaya berfikir kritis – critical thinking.

Kegiatan refleksi membuat pembelajar aktif dalam menganalisi strategi belajar, membuat keputusan dan menjadikan mistake sebagai feedback yang dapat meningkatkan kompetensi (Opalka 2001). Adalah tugas guru untuk memfasilitai pembelajar agar mampu merefleksikan apa yang mereka pelajarai.

Pembelajaran seperti ini tidak terfokus pada guru. Sebuah riset yang dilakukan oleh Nunan dan Benson di Universitas Hongkong (2000) menyebutkan bahwa orientasi siswa dalam belajar sangat dipengaruhi oleh kegiatan guru di kelas.

Guru hendaknya meninggalkan sistem pendidikan spoonfeed dengan memberikan sedikit penjelaskan dan meninggalkan banyak kepenasaran dalam diri siswa. Sehingga siswa terprovokasi untuk menggali lebih dalam.

Seorang provokator sejati hendaknya jangan meninggalkan pembelajar mati dalam kepenasaran. Menurut Harmer guru harus “keep interesting going”. Kesenangan dan kepenasaran siswa terus dapat berlanjut dengan memberikan sejumlah tugas yang dapat memenuhi dan menyalurkan seluruh rasa kepenasaran mereka.

Menulis jurnal adalah salah satunya. Nunan member istilah learner diary untuk tugas ini. Nowlan (2008) menyatakan bahwa learner diary harus menyentuh kegiatan pembelajar di kelas dan luar kelas seperti dunia kerja, kegitana sosial, traveling, pemahaman budaya serta topik lain yang dekat dengan kehidupan mereka.

Sampai disini tugas seorang provokator sejati belum lah selesai. Learner diary tidak akan berguna bagi pembeajar tanpa adanya respon. Menurut Harmer pembelajar menginginkan feedback dari guru yang membaca diary mereka (2008:402).

Respon ini dapat berupa saran, evaluasi positif dan dukungan yang sportif. Respon ini dapat membanagun kepercayaan pembelajar terhadap guru. Rasa ini mutlak diperlukan guna meningkatkan kepercayaan diri dan menjadi pembelajar mandiri.

Yang terakhir dan yang paling menantang bagi seorang provokator sejati adalah istiqomah dan amanah. Memfasiliatsi pembelajar bukan kerja yang mudah begitu juga membaca diary mereka. Kekonsistenan dan rasa bertanggungjawab adalah kunci utamanya.

Seorang pahlawan adalah seorang provokator sejati yang tidak membutuhkan eluk-elukan namun merindukan antusiasme dari orang yang dekat dengannya. Memprovokasi pembelajar adalah menumbuhkembangkan masa depan peradaban bukan menanamkan fikiran-fikiran provokatif yang dapat menimbulkan ke-chaos-an.

*Tulisan ini pernah dimuat di Harian Tribun Jabar pada tanggal 26 Januari 2009

3 thoughts on “Guru, Sang Provokator Sejati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s