Elis Personal Journal

Prinsip dan Aplikasi Dasar Ideolinguistik

Posted by: englisah on: June 20, 2009

sampul bukuPrinsip dan Aplikasi Dasar Ideolinguistik

Oleh: E. Elis Aisah

Buku ini ditulis sebagai tindak lanjut dari filsafat bahasa Ideolinguistik. Indonesia merupakan surga laboratorium bahasa, namun sejak dulu filsafat bahasa tidak pernah berkembang apalagi lahir di Indonesia. Merupakan suatu pekerjaan berat dan patut diapresiasikan, akhirnya terbit juga filsafat bahasa dari surga laboratorium bahasa ini.

Pendahuluan
Bahasa, begitu juga dengan segala hal lain yang ada di muka bumi ini mengalami perubahan; perubahan itu bisa saja dialami dengan cepat maupun dengan lambat. Perubahan bahasa terjadi seiring dengan perubahan yang terjadi pada pengguna bahasa itu sendiri, dengan segenap faktor-faktor eksternal dan internal para pengguna bahasa itu. Faktor eksternal yang terdiri dari aspek-aspek sosiokultural dan aspek internal seperti perkembangan mental dan ide sangat mempengaruhi eksistensi dan dinamika bahasa. Perubahan bahasa itu juga terjadi dalam beberapa aspek seperti aspek prinsip dan aspek aplikasi. Kadang perubahan itu terjadi karena asimilasi atau bahkan perombakan total; dan ini terjadi guna menyesuaikan pemahaman manusia pada prinsip-prinsip bahasa dan aplikasinya.
Ternyata, perubahan bahasa itu sendiri bisa dalam bentuk kelahiran varian baru dari prinsip dan aplikasi bahasa yang sudah ada. Hal ini sangat tergantung pada sejauh mana prinsip-prinsip yang sudah ada itu menjawab persoalan-persoalan seputar fenomena bahasa itu sendiri. Sebagai contoh, lahirnya Neurolinguistik seagai varian baru yang menganalisa hubungan saraf-saraf manusia dan aktivitas linguistisnya. Dahulunya, Psikolinguistik merupakan ilmu yang menangani persoalan ini, lambat laun manusia, dengan segenap kompleksitas kehidupannya, menemukan wilayah yang tak terkaji oleh Psikolinguistik. Oleh karenanya dibutuhkan varian baru yang diharapkan bisa menangani persoalan yang ada. Sehingga, dinamika perubahan bahasa itu sendiri berada pada titik-titik tertentu saja dengan atau tidak mempengaruhi titik-titik yang lain…. (read more [download fulltext PDF])

Mendidik, Mencintai dengan Berdialog

Posted by: englisah on: May 25, 2009

Picture 003Mendidik, Mencintai dengan Berdialog

Oleh:

Eneng Elis Aisah*

Tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak mengetahui kata cinta. ‘cinta’ adalah kata yang sering kita dengar dan juga ungkapkan.

Kata ini sering menjadi legitimasi atas berbagai alasan yang sering kita lakukan. “bakating ku nyaah” secara sepontan muncul ketika kita memukul anak yang nakal, atau ketika berbeda pendapat atas suatu pandangan.

Anak adalah amanah Allah kepada kita. Sifat kekhalifaahan kita diuji dengan kehadiran mereka. Bukan diakhirat kelak, di dunia pun amanah ini dapat menggiring kita kepada dua pilihan, terpuji atau ternistai.

Anak bukanlah miniatur kita – orang dewasa. Mereka adalah pribadi yang sangat unik. Keunikan itulah yang menyebabkan mereka berbeda dalam intelegensi (Gardner dalam Pinter 2006).

Namun, ‘perbedaan’ mereka tidak mengakibatkan perbedaan dalam kebutuhan. Kebutuhan akan pangan, sandang, perlindungan serta aktualisasi diri mutlak terpenuhi, lazimnya manusia dewasa seperti kita.

Sifat alamiah anak, dimanapun adalah egocentris. Mereka selalu ingin menempatkan dirinya dalam pusat pusaran perhatian kita, tidak ada yang lain (Piaget dalam Mooney).

Mereka tidak ingin diberitahu apa yang harus mereka lakukan. Al-hal (tindak laku) lebih mereka sukai dari pada petuah. Terlebih lagi, ketika mereka dilibatkan dalam kontek sosial yang kita hadirkan (Vygotsky dalam Cammeron)

Mengenal potensi anak kita adalah tugas utama kita sebelum mendidik. Walaupun anak sendiri, tidak mesti mereka mirip seperti kita.

Bahkan tidak mesti memiliki cita-cita dan keinginan seperti kita. Apalagi dengan siswa yang tidak memiliki hubungan biologis. Tentu mengetahui variabel mereka dalam belajar mutlak diperlukan.

Pengalaman dan pengetahuan  kita terhadap anak menggiring kita pada penyadaran bahwa mendidik anak, baik anak sendiri ataupun anak orang lain, haruslah dengan cinta. Namun cinta yang seperti apa yang harus kita berikan.

Apakah cinta yang membuat mereka tergantung pada kita selamanya? Ataukah cinta yang memberi ruang kepada mereka untuk berfikir bagaiman mencinta?

Mencinta berarti menghadirkan dialog yang tak berpretensi. Menghadirkan penggiringan nalar dalam koridor respect.

Menghadirkan jawab yang mengandung tanya, sekaligus jawaban secara bersimultan. Menghadirkan berjuta senyum dalam gelak tawa.  Serta membingkai sendu dalam pusaran ilmu.

Dialog menempatkan anak sebagai entitas yang dihormati. Diakui ke wujudan-nya. Diasah kecemerlangan fikirnya.

Dialog adalah aktivitas yang disukai anak karena anak cenderung untuk bertanya sebagai media memenuhi rasa keingintahuannya (Pinter 2006).

Menghadirkan aktivitas dialog atau suasana yang didasari open ended questions relatif sulit terlebih ketika dulu kita dibesarkan dan dididik dalam suasana yang kurang demokratis.

Pengalaman masa lalu, walaupun berusaha untuk dihindari, selalu menghantui malahan bisa merefleksikan tindakan kita. Karena hanya  lingkungan itu yang kita ketahui dan hanya perlakuan seperti itu yang pernah kita rasakan.

Namun, apakah dialog antara diri, ego dan wawasan tidak menghasilkan penyadaran bahwa semua kekeliruan pengalaman yang telah kita rasakan dulu mesti dirasakan oleh siswa, anak yang kita sayangi?

Seandainya dosa turunan itu ada, maka adalah dosa terbesar kita dengan menurunkan apa yang telah menjadi kesalahan. Tidak etis, kiranya, pengalaman yang kita benci ketika anak-anak diberikan kepada orang yang kita sayangi sekarang.

Mendidik adalah mencintai. Dan mencintai berarti memberikan yang terbaik. Berdialog yang mendidik adalah memberikan waktu, pikiran, perasaan dan perhatian dengan penuh rasa cinta serta memberikan nilai-nilai perjuangan abadi.

Berdialog dengan cinta menghadirkan pendidikan dan pengalaman bagaimana mencinta bagi anak, kelak. Sehingga generasi masa depan kita menjadi generasi yang tidak menyukai kebencian. Karena mereka mempunyai banyak referensi, contoh dan pengalaman terbaik bagaimana mencintai.

* Penulis adalah Guru MTs. Negeri Ciranjang

(NB: Umi…teu aya deui kanyaah anu dipikahareup ti manusia, iwal ti umi)

You are the:

  • 1,367 Visitor, Thanks

Archeves

Online Muzic

Kamus Orisinil

dictionary on your finger

DownloadStore

Siutao English

Departemen Agama

Ideolinguistics

Visitors

free counters